Faculty of Cultural Studies

Universitas Brawijaya

Seminar Nasional Kebudayaan II Call for Papers Indonesia Sebagai Ruang Imajinasi – Memaknai 73th Indonesia Merdeka

09-Oct-2018 admin Agenda FIB, Pengumuman FIB

Seminar Nasional Kebudayaan II

Call for Papers

Indonesia Sebagai Ruang Imajinasi – Memaknai 73th Indonesia Merdeka

Benedict Anderson (1983) mengungkapkan dalam bukunya Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism bahwa nasionalisme atau semangat kebangsaan adalah sebuah projeksi, sebuah imajinasi, yang dengan sokongan kekuatan print capitalism, terutama di masa Orde Baru terus menerus dicita dan diciptakan terutama oleh elite penguasa. Projeksi imajinasi itu kini menghadapi sebuah perubahan yang begitu cepat memapar kuat di kesadaran anak bangsa ini. Sebuah ide kebangsaan yang berbarengan dengan terus berkembangnya modernisasi teknologi komunikasi dan transportasi yang membawa mobilitas pemikiran dan kebudayaan baru semakin liar. Dimana apa yang disebut dengan  “global ethnoscapes” oleh Arjun Appadurai (1997) Modernity at Large: Cultural Dimensions of Modernization dari dunia popular global, ideologi dan kegamaan transnational terus menerobos, menembus dan bahkan meresap dalam subjek Nation-State.  Proses bernegosiasi terjadi terus-menerus, ada yang menikmati dan bahkan juga resistensi baik dari masyarakat dan negara menyesuaikan dengan agenda imajinasi nasionalisme yang dikonstruksi oleh elite Penguasa atau Negara. Tentu saja dalam proses oposisi biner terjadi pula perayaan kreasi budaya (sinkretisme, akulturasi, fusion) juga terjadi dengan gagap dan gegap gempita. Di Indonesia ini ditandai dengan mulainya swastanisasi siaran televisi di tahun 1980an dan mulai meredup dan terpuruknya media negara TVRI (dan RRI) sebegai penjaga imajinasi kebangsaan oleh gemerlap budaya pop dan konsumerisme, yang merupakan satu dari roda ekonomi kapitalisme. Dominasi negara sebagai gerbang visualitas imajinasi kebangsaan dapat dikatakan telah tergerus oleh arus global ethnoscape ini dengan kuasa kapital dibelakangnya.

Sementara itu bila kita menengok ke pembangunan ruang fisik/material dari masa revolusi Orla, ke skema repelita masa Orba yang membawa bangsa ini menuju bangsa berbasis masyarakat konsumen seperti di iklan surat kabar di tahun 70an, hingga masa satu dekade lebih pasca refomasi, pembangunan urban dan rural yang organis masih saja dominan. Di satu sisi, gambaran budaya kesemrawutan kota yang tumbuh liar seakan tanpa blueprint  jauh dari konsep dan visi tentang pembangunan ruang ala era kolonial dimana ada perencanaan pembangunan kota-kota di Jawa. Misalnya, dalam merencanakan kotanya Herman Thomas Karsten memvisikan lingkungan yang terencana agar memungkinkan penduduk hidup bersama membangun suatu masyarakat multi-kultural, menikmati lingkungan sosial dan budaya yang sama, sesuai dengan tingkat perkembangan ekonomi dan sosial masing-masing. Sebuah visi yang sayangnya belum terlihat dampaknya karena keburu zaman revolusi dan republik mengambil alih kuasa ruang imajinasi.

Bila kita pakai kacamata Hauser-Schäublin dan Dickhardt (2003 dalam Kokot 2018) tentang spasialitas budaya maka ruang kota urban misalnya bukanlah sekadar entitas abstrak atau hanya wadah bagi tindakan manusianya, melainkan juga sebagai konseptualisasi atau model budaya manusiannya. Keduanya adalah medium dan produk dari praktik sosial. Dapat ditambahkan di sini bahwa manusia memaknai dan berkatifitas di ruang dimana dia berada, namun ruang juga meniliki kuasa ‘memaksa’ mereka yang ada di luar dan di dalamnya untuk bergerak mengikuti ruangnya. Hal ini akan menarik bila kita membincangkan bagaimana kota-kota di Nusantara ini memaknai keIndonesiaan bagi subjek yang hidup di dalamnya dan sebaliknya. Tentu akan sangat menarik pula bila kita lihat dan refleksikan kebudayaan apa yang terjadi di pembangunan ruang rural pedesaan di Indonesia dan juga pembangunan infrastuktur era Jokowi yang telah berjalan seperti jalan trans Papua dan pembangunan di perbatasan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

SNK II dengan tema besar Indonesia Sebagai Ruang Imajinasi bertujuan untuk merefleksikan sejauh mana arah pembentukan imajinasi kebangsaan bangsa ini selama 73th Indonesia merdeka. Bagiamanakah ruang-ruang imajinasi kebangsaan yang dibentuk oleh teknologi media komunikasi masa kini, bagimana pula yang terjadi di ruang kreatif para seniman dan kesakralan agama memaknai keIndonesiaan. Bagaimana pula dunia pendidikan plat merah dan kuning dalam mengimajinasikan bangsa dan negara paska reformasi juga menjadi diskursus yang menarik untuk dibahas. Secara lebih luas SNKII kali ini juga membincangkan dinamika ruang budaya material urban dan rural beserta pembangunan infrasturktur era Jokowi. Kuasa ruang yang ada di ranah hukum, ekonomi, dan politik menjelang Pilpres 2019 akan jadi tema yang tak bisa diacuhkan. Secara khusus pula SNK II juga akan membincangkan diskursus ruang memori kebangsaan baik yang resmi diciptakan oleh Negara maupun dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

SNK II mengundang dari berbagai disiplin ilmu dengan perspektif yang multidisiplin baik dari ilmu sosial, ekonomi, filsafat, hukum, psikologi, sastra, antropologi, politik, media dan komunikasi, sejarah, arsitektur, seni dan ilmu-ilmu sosio humaniora lainnya untuk bersama-sama melihat dan membincangkan kompleksitas dinamis dari projek imajinasi akbar yang bernama Bangsa Indonesia.

1. Ruang Media dan Kebangsaan

Isu Hoax, peran TVRI dan RRI, iklan visual, serta identitas di dunia media sosial dalam tingkat lokal kedaerahan, komunitas, hingga isu etnisitas dalam bingkai keindonesiaan adalah sebagian tema yang akan menjadi fokus diskusi dari panel ini. Apakah yang terjadi dengan Indonesia luar Jakarta dan luar Jawa ketika TV-TV swasta menyuguhkan paparan imajinasi yang sangat  “Jakarta Sentris” dengan cita rasa modernitas (Barat) dan moralitas kesalehan Agama? Bagaimana dengan TVRI dan RRI? Bagaimana pula dengan dunia film dan sinema yang ada selama 73 tahun bangsa ini merdeka? Seperti apakah imajinasi keindonesiaan di tembok-tembok FB, WA, LINE, IG twitter dan sebagaianya? Bagaimana dengan animasi, komik, dan majalah-majalah anak, remaja hingga dewasa mengimajinasikan keindonesiaan?

2. Ruang Seni-Budaya, Agama dan Imajinasi Keindonesiaan

Maraknya ustad seleb yang tampil terutama di televisi menjadi poin diskursus kebangsaan kita yang bersinggungan dengan umat Islam Indonesia, namun bagaimanakah suara dan imajinasi dari ruang-ruang keagamaan minoritas Indonesia lainnya (enam resmi agama yang di aku pemerintah) termasuk  agama lokal asli Indonesia? Sementara itu, dunia kesenian budaya yang kini seakan hanya menjadi gawang pencitraan ruang kepariwisataan perlu untuk dilihat kembali praktik mereka di dunia komunitas seni, seniman, dan budayawan (musik, teater, seni tradisi, seni religi, lukis) dalam memaknai keIndonesian di wilayah kebudayaan mereka yang berjarak dari hegemoni kuasa imajinasi negara.

3. Ruang Pendidikan dan Kebangsaan

Pendidikan adalah ruang pertama dari indoktrinasi imajinasi kebangsaan, bergantinya rezim penguasa seringkali berganti pula kebijakannya (CBSA, KBK, KKNI) namun ketimpangan infrastruktur dan SDM pendidikan di pelosok negeri adalah realitas yang hingga kini masih saja ada. Bagaimanakah ruang-ruang pendidikan di pelosok negeri mengimajinasikan keIndonesiaan di selama 73 tahun kemerdekaan di sekolah publik dan privat? Bagaimana dengan yang berbasis agama dan nasional? Sejauh mana ideologi Pancasila ditafsirkan dan dimaknai di ruang-ruang pendidikan tersebut?

4. Ruang Urban, Infrastruktur dan Kebangsaan

Perkembangan kota yang terus bergeliat telah memaksa orang yang tinggal di dalamnya menyesuaikan diri mencari maknanya. Kota, dan kampung di dalamnya, juga dibangun dan dihias dengan segala simbolism keIndonesiaan dengan prasati Dasa Sila PKK dan patung burung garuda di gerbang gang kampung (Hidayat, 2008) dan taman RT/RW. Hal ini semakin marak terutama di masa-masa peringatan tujuh-belasan dengan berbagai festivalnya.  Mall-mall dan berbagai bangunan resto, cafe, dan ruang publik lainnya membawa budaya baru dan bahkan asing dari kota besar, bahkan global, terus bermunculan menembus keseharian masyarakat, bertarung dengan imajinasi keindonesian. Bagaimanakah kota dan masyarakat urbannya mengimajinasikan Indonesia ditengah pertarungan ini? Jalan yang dibangun oleh Daendels telah merubah Jawa secara keseluruhan, lalu bagaimana dengan dampak pembangunan ifrastruktur dari zaman revolusi hingga post reformasi ini?

5. Ruang Ekonomi, Politik, Hukum dan Kekuasaan

Tema panel ini  yang luas ini akan melihat secara makro dan merefleksikan tentang imajinasi keindonesian di ranah ruang-ruang perkonomian, politik, hukum, dan kekuasaan lainnya.  Pertanyaan menggelitik di ruang ekonomi Indonesia misalnya adalah sejauh mana imajinasi indoneisa yang adil dan makmur terealisasi dalam perjalanan 73 tahun Indonesia merdeka, seperti apakah hingar bingar perjalanan politik dan politisi menggambarkan imajinasi demokrasi keindonesiaan, lalu apa yang tejadi dengan imajinasi keindonesiaan di ruang hukum negeri ini? Bagaimana pula imajinasi yang ada di ruang-ruang kekuasaan negara lainnya.

6. Ruang Memori Kebangsaan

Perjalanan menuju kemerdekaan 73th ini telah menorehkan momen, kenangan, nostalgia bagi anak bangsa maupun pribadi-pribadi yang hidup di dalamnya. Panel ini khusus melihat kebelakang memori para pelaku bangsa untuk manatap ke depan arah perjalanan menggapai wujud dari imajinasi kebangsaan yang telah dan sedang berjalan. Selain diskursus yang terinspirasi dari 4 hal hubungan memori dan kebangsaan dari buku Marii͡a Nikolaeva Todorova Balkan Identities: Nation and Memory (2004) yang membahasa konstruksi memori sejarah pada tingkat yang berbeda, dari individu ke bangsa; situs-situs memori nasional (misal museum dan monumen); transmisi memori nasional; dan mobilisasi identitas nasional panel ini ingin juga melihat dari sisi generasi popular yang ada mengisi dan mencipta denyut imajinasi kebangsaan selama 73th ini (misal, indonesia dalam kenangan genereasi 50, 60, 70, dst) dari ruang film, musik, hingga makanan dan lain sebagainya.

Tentu saja tema yang lain dan bahkan beririsan dengan tema-tema yang ada di atas terbuka untuk dibincangkan sebagai diskursus yang reflektif untuk memvisikan kembali ruang identitas kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia yang lebih bermartabat.

SEMINAR NASIONAL KEBUDAYAAN 2

Call for Paper

Indonesia Sebagai Ruang Imajinasi- Memaknai 73th Indonesia Merdeka

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, Malang

PELAKSANAAN:

Tanggal : Rabu, 07 November 2018

Tempat : Aula FIB Universitas Brawijaya, Malang

PEMBICARA :

Keynote Speaker

Dr. (H.C.) Susi Pudjiastuti

(Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia)

Pembicara 1

Prof. Peter Carey

(Sejarawan Indonesianis)

Pembicara 2

Yudi Latief, Ph.D

(Pemerhati Kebangsaan)

Pembicara 3

Dr. Hipolitus K. Kewuel

(Dosen Antropologi FIB-UB)

Call For Papers

-Ruang Media dan Kebangsaan

-Ruang Seni-Budaya, Agama dan Imajinasi Keindonesiaan

-Ruang Pendidikan dan Kebangsaan

-Ruang Urban Infrastruktur dan Kebangsaan

- Ruang Eknomi, Politik, Hukum dan Kekuasaan

-Ruang Memori Kebangsaan

TANGGAL – TANGGAL PENTING

Batas Akhir Pengiriman Abstrak 14 September 2018 21 September 2018

Pengumuman Abstrak yang Lolos 19 September 2018 24 September 2018

Batas Akhir Pengiriman Full Paper 15 Oktober 2018

Batas Registrasi 21 Oktober 2018

* Abstrak dan fullpaper dikirimkan ke: snk2antroub@gmail.com

Download

Template-Abstrak-SNK

Format-Penulisan-Makalah-SNK-2

BIAYA :

  • Pemakalah   : Rp 250.000,-
  • Umum          : Rp 150.000,-
  • Mahasiswa   : Rp 50.000,-

NARA HUBUNG :