PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Devinta Puspita Ratri, M.Pd Menjadi Pembicara pada Workshop Penyusunan Modul Bahasa Inggris SD/ MI Kota Batu Tahun 2018

07-Mar-2018 Pendidikan Inggris Berita, Dosen

DEVINTA02

Menyusun sebuah materi ajar tidaklah mudah. Apalagi materi ajar bahasa Inggris bagi pembelajar pemula, misalnya pada usia Sekolah Dasar (SD). Hal ini diungkapkan oleh salah satu dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Devinta Puspita Ratri, M.Pd, yang menjadi pembicara tunggal pada acara Workshop Penyusunan Modul Bahasa Inggris SD/ MI Kota Batu Tahun 2018. Acara yang berlangsung selama 2 (dua) hari (6-7/Mar/2018) ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional Kota Batu. Pada hari pertama, agenda acara tersebut adalah pemberian materi tentang pembelajaran bahasa Inggris untuk pembelajar pemula dan pengembangan materi bahasa Inggris. Sedangkan acara pada hari kedua adalah workshop pembuatan draft modul oleh para peserta pelatihan.

Pada kesempatan pemberian materi, Devinta memaparkan tentang Bahasa Inggris untuk pembelajar pemula. “Saya memberikan materi pembelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak, serta berbagi strategi mengajar bahasa Inggris untuk mereka,” ujar Devinta. Strategi ini meliputi pengajaran kosa kata (vocabulary), tata bahasa (grammar), dan empat keterampilan berbahasa, yaitu berbicara (speaking), membaca (reading), menyimak (listening), dan menulis (writing). Selain itu, Devinta juga memaparkan tentang pengembangan materi instruksional bahasa Inggris. “Pada sesi ini, saya berbagi ilmu tentang mengembangkan silabus yang telah dibuat oleh bapak ibu guru menjadi bahan ajar bahasa Inggris,” ujarnya.

 

DEVINTA01

Kegiatan ini berawal dari ketidakadaan kurikulum bahasa Inggris untuk SD. “Karena waktu itu diberlakukan kurikulum 2013, sementara banyak guru-guru SD yang berbasis bahasa Inggris. Akhirnya banyak guru-guru tersebut menjadi guru kelas,” ujar Devinta. Bahasa Inggris tetap diajarkan namun sebagai salah satu kegiatan ekstra kurikuler. Akan tetapi bahasa Inggris masih dijadikan sebagai salah satu materi yang diujikan pada ujian sekolah. “Singkatnya, terjadi ketidakcocokan antara kurikulum, buku, dan asesmen,” kata Devinta. Akhirnya, Kelompok Kompetensi Guru (KKG) bahasa Inggris memutuskan mengadakan pelatihan dengan kegiatan pertama yaitu pembuatan modul bahasa Inggris.

Pelatihan pembuatan modul bahasa Inggris untuk SD/ MI ini disambut baik oleh peserta pelatihan yang merupakan guru-guru SD di kota Batu. Salah satu peserta pelatihan, Heny Suswandari, menanggapi positif terhadap acara ini. “Menurut saya kegiatan ini bagus, karena selama ini kami masih bingung dalam membuat materi. Dan kami terbantu dalam menyusun materi yang seragam dan mengacu pada kearifan lokal,” ujar Heny yang merupakan guru SDN Sidomulyo 01 Batu. Sebelumnya, para guru tersebut membuat buku dan lembar kegiatan siswa (LKS) berbeda-beda yang akhirnya berdampak pada materi yang berbeda-beda pula. Devinta berharap kegiatan ini memberikan manfaat kedepannya. “Semoga dengan adanya workshop ini, kota Batu mempunyai modul Bahasa Inggris yang benar-benar maksimal dan tidak ada lagi perbedaan materi,” ujarnya.