PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Irene Nany Kusumawardani, S.Hum, M.Li, Alies Poetri Lintangsari,S.S, M.Li, dan Hari Puisi Sedunia

21-Mar-2018 Pendidikan Inggris Berita, Dosen

Lintang Irene edited

Poetry is part of us as human, it speaks the voices of our hearts. Our longings. The unsaid words,” ujar Irene Nany Kusumawardani, S.Hum, M.Li, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), ketika ditanya tentang arti puisi. Sementara itu, Alies Poetri Lintangsari, S.S, M.Li yang juga dosen Pebasis FIB UB, menyatakan bahwa puisi itu adalah sebuah pelarian. “Poetry is my sweet escape, sebagai kotak rahasia bagi berbagai perasaan tak bernama,” ujarnya. Mereka berdua memberikan tanggapan tentang puisi terkait tanggal 21 Maret yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Hari Puisi Sedunia (World Poetry Day).

Menurut PBB, tujuan dari peringatan Hari Puisi Sedunia adalah untuk melestarikan tradisi puisi terutama yang berkembang dalam tradisi lisan. Disamping itu juga untuk meningkatkan minat dan pengajaran puisi, untuk memperbaiki kolaborasi antara puisi dengan berbagai bentuk seni lain seperti teater, tarian, musik dan lukisan, serta untuk mendukung penerbitan-penerbitan puisi di berbagai media.

Ditanya tentang pendapat mengenai puisi dan remaja pada zaman ini, mereka berdua sepakat menjawab bahwa kebanyakan remaja tidak menyukai puisi. “Hampir sebagian besar anak-anak yang pernah saya ajar di kelas puisi, mengaku tidak menyukai puisi karena menurut mereka puisi sangat sulit untuk dipahami’” ujar Lintang. Irene juga menyatakan bahwa kebanyakan remaja menyukai puisi hanya karena trend. “Tapi yang berinisiatif untuk mengenal puisi dengan lebih dalam, tidak banyak,” tambahnya.

Sebagai dosen prodi Pebasis, mereka berpendapat bahwa pengajaran puisi kepada mahasiswa prodi pendidikan itu penting. Sastra sangat ampuh dalam pembelajaran bahasa. “Jadi sekalipun di jurusan pendidikan, kita sangat membutuhkan sastra, karena melalui sastra, pembelajaran bahasa menjadi sangat relevan,” ujar Irene. Sementara Lintang berpendapat bahwa mengajarkan puisi kepada mahasiswa pendidikan menjadi penting untuk memperkaya kosakata dan membantu mereka mengenali budaya dan pesan dalam puisi tersebut. “Dan yang paling penting, sebagai trigger bagi mereka untuk berpikir kritis dengan cara mengungkap unstated meaning dalam sebuah puisi,” tambahnya.

Sebagai dosen yang sama-sama mengajar puisi, mereka memiliki pandangan tersendiri tentang pengenalan sastra kepada mahasiswa maupun generasi muda. “Sebaiknya dimulai dari sedini mungkin. Bahkan mulai bayi, dengan mendendangkan traditional nursery rhymes, reading them stories. Itu akan merangsang our intelligence and creativity,” kata Irene. Menurutnya, di Indonesia kesadaran ini masih sangat minim padahal kebudayaan kita sangat kaya, termasuk sastra. Untuk meraih generasi muda tidak pernah ada cara lain selain membuat sastra ini menarik dan menyentuh hidup mereka. “Jika kita memperkenalkan atau memilih sastra yang tepat dengan kehidupan mereka, saya rasa mereka akan jatuh cinta,” tambahnya. Bagi Lintang, mengajar puisi membawa tantangan tersendiri. “Generasi sekarang adalah generasi yang disebut-sebut sebagai digital native, dimana mereka terbiasa dengan kehidupan yang instan dan digital,” kata Lintang.  Lintang kemudian memanfaatkan dunia digital sebagai sarana pembelajaran puisi. “And it works. Mereka cenderung pendiam dan pemalu di dalam kelas, namun ternyata mereka lebih ekspresif dalam berpuisi di dunia digital,” ujarnya. Karya-karya mahasiswa tersebut bisa dilihat di akun instagram @poetsforp. Lintang menambahkan, memperkenalkan sastra bisa dimulai dari usia dini, misalnya melalui bedtime stories atau dongeng sebelum tidur. “Dalam konteks pendidikan, mungkin bisa dibuat reading club yang didalamnya kita bisa sama-sama membaca dan mengkaji karya sastra,” sambungnya.

Menanggapi pencanangan Hari Puisi Sedunia pada tanggal 21 Maret, kedua dosen ini menyambut baik. “Menurut saya bagus. Tinggal bagaimana kita memaknainya, hanya sebagai monumen atau sebagai moment penggerak untuk kembali merayakan dan merawat budaya literasi,” kata Lintang. Irene berujar, “It’s very great that it reminds us that it matters. And it really does matter. Even poetry can be a vision/prophecy of what might happen in the future. It’s not just a word,” ujar Irene.

Selamat Hari Puisi Sedunia.