PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Gadis Kartika Pratiwi, Alumni Pebasis, Menjadi Presenter di Indonesian Students Discussion Forum 2018 Australia

01-Apr-2018 Pendidikan Inggris Berita

GADIS 01

Tidak banyak yang tertarik untuk menjadikan orang tuli sebagai subyek penelitian, tetapi tidak sedikit pula penelitian yang mengangkat topik ini. Salah satu yang tertarik untuk mengangkat topic ini adalah Gadis Kartika Pratiwi, alumni dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2012. “Sebenarnya itu tugas mata kuliah Language and Intercultural Communication, yang berupa research project. Ketika saya submit ke ISDF ternyata diterima,” ujar salah satu penerima beasiswa LPDP ini.

ISDF (Indonesian Students Discussion Forum) adalah sebuah forum yang dibentuk oleh para mahasiswa yang berkuliah di Australia dari latar belakang dan organisasi yang berbeda. Mereka adalah para penerima beasiswa dari Australia Awards Scholars Club (AASC), PPIA – University of Melbourne dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Victoria, Australia. Forum ini berawal dari keprihatinan terhadap masalah yang dihadapi oleh Indonesia karena berbagai masalah mulai dari keberagaman budaya dan masalah-masalah perekonomian. Acara ini diselenggarakan pada 27 Maret 2018 di University of Melbourne, Australia.

Tema dari ISDF ini adalah ‘Menciptakan Pembangunan Masa Depan Indonesia’ dan tujuan dari ISDF adalah untuk menyajikan ide-ide, penelitian, dan penemuan terbaik di semua bidang studi untuk pembangunan masa depan Indonesia. “Judul penelitian saya ‘Intracultural Communication between Deaf and Hearing People in Indonesia and the Cultural Conceptualisation of Deaf’,” ujar Gadis. Perempuan yang sedang menempuh program Master Linguistik Terapan di Monash University, Australia ini menyatakan ketertarikannya pada disabilitas. “Karena belum terlalu banyak jurnal tentang Deaf di Indonesia. Saya juga tertarik dengan bahasa isyarat. Banyak sekali fiturnya yang bisa diteliti,” terang lulusan terbaik program sarjana UB ini. Penelitiannya membahas tentang hubungan antara orang tuli dan orang yang mendengar di Indonesia, apakah itu komunikasi antarbudaya atau sesama budaya, bermasalah. Hal ini merupakan sebuah masalah karena bisa menjadi komunikasi antarbudaya karena orang tuli dan mendengar memperoleh bahasa pertama yang berbeda. Penelitian Gadis membahas komunikasi antarbudaya dan sesama budaya antara kedua komunitas tersebut dan menguji konseptualisasi budaya dari kata “Tuli”.

GADIS 02

Dalam mengerjakan penelitian ini, Gadis mendapatkan banyak kendala. “Tantangannya banyak. Saat itu semester pertama saya harus adaptasi banyak hal, salah satunya sistem perkuliahan, tugas, dan lain-lain,” katanya. Selain itu, kendala juga datang dari pihak responden. “Ketika mengerjakan penelitian ini, sulitnya mencari responden kuesioner orang tuli di Indonesia yg bersedia mengisi kuesioner,” tambahnya.

Dalam penelitian ini, Gadis menjelaskan tentang hubungan komunikasi antara Tuli dan dengar di Indonesia. “Ini bisa dimasukkan ke intracultural communication, bukan intercultural, karena walaupun share culture yang sama dan berasal dari negara yang sama, bahasa pertama belum tentu sama,” ujarnya. Mereka yang Tuli sejak lahir, bahasa pertama mereka adalah bahasa isyarat. Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua mereka. “Lalu juga tentang mereka lebih memilih dipanggil Tuli bukan tunarungu, karena Tuli mencerminkan identitas dan budaya mereka,” lanjutnya. Dalam penelitian ini pula Gadis menemukan bahwa sebagian orang Tuli bahkan tidak memandang mereka sebagai difabel. “Ini sesuai dengan teori Harris bahwa ada dua dichotomy, yaitu HCD atau Hearing Construction of Deafness, dan DCD atau Deaf Construction of Deafness. Kalau kata orang hearing orang deaf tidak normal, is not ‘whole‘, sedangkan menurut orang Deaf mereka baik-baik saja, mereka punya budaya dan bahasa sendiri, tidak butuh cochlear implant,” lanjut perempuan asal Malang ini.

Gadis meraih gelar Sarjana Pendidikan dengan predikat cumlaude dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Brawijaya, pada 2016. Penerima beasiswa LPDP ini juga pernah bekerja sebagai asisten peneliti di FIB UB di mana ia juga terlibat sebagai penerjemah Bahasa Isyarat untuk siswa Tuli pada Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) UB. Selain kegiatan pendidikan dan profesionalnya, ia juga aktif terlibat dalam berbagai organisasi dan acara, antara lain, bertindak sebagai staf pendidikan di FORMAPI (Forum Mahasiswa Peduli Inklusi), UB. Presentasi Gadis pada ISDF bisa diakses melalui www.isdf.co/video.