PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Dr. Putu Dian Danayanti Degeng, M.Pd: Film Bisa Dijadikan Media Pembelajaran

03-Apr-2018 Pendidikan Inggris Berita, Dosen

Annya

Tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Perfilman Nasional. Film diharapkan tidak hanya menghibur tapi juga mendidik. Terkait dengan hal tersebut, ada pertanyaan yang muncul; Apakah film bisa menjadi media pembelajaran, utamanya pembelajaran bahasa? “Menurut saya, film layak dijadikan media pembelajaran karena dengan film itu mahasiswa bisa mendapatkan contoh konkret tentang bagaimana sih cara ngajar guru, terutama untuk mengajar grammar jaman now. Selain itu, film juga ngajari supaya kalau jadi guru harus bisa berpikiran terbuka,” tutur Dr. Putu Dian Danayanti Degeng, M.Pd, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya.

Menurut Annya, begitu ia biasa disapa, penggunaan film sebagai media mengajar di kelas jangan sampai membuat kita merasa terbebani. “Tujuan utama penggunaan media adalah untuk memudahkan siswa belajar, bukan memudahkan guru mengajar. Jadi selama film itu bisa memudahkan siswa untuk belajar, it will be okay,” tambahnya. Ada strategi mengajar yang diaplikasikan, yaitu flipped classroom. “Jadi dosen menyiapkan atau membuat video ataupun film yang akan ditonton oleh mahasiswa di rumah. Jadi, mereka nonton film itu dulu di rumah, baru besoknya dibahas di kelas. Jadi film itu digunakan untuk prior knowledge,” jelasnya. Video yang disarankan pun memiliki durasi terbatas, hanya sekitar 3 menit. Pada program studi Pebasis, ada mata kuliah ICT for language teaching. Mata kuliah tersebut bisa disisipkan tentang film untuk media pembelajaran. “Mahasiswa juga dipersilahkan untuk membuat film sebagai final projectnya,” jelas Annya.

Tidak hanya film dokumenter ataupun features, film komersialpun bisa dipakai sebagai media pembelajaran. ”Mungkin saja, selama (film tersebut) cocok dengan tujuan pembelajaran. Biasanya film-film komersil banyak menggambarkan kehidupan nyata,” jelas Annya. Salah satu film yang direkomendasikan Annya adalah The Ron Clark Story. Film keluaran tahun 2006 ini dibintangi oleh Matthew Perry dan memenangkan beberapa penghargaan. Film yang berdasarkan cerita nyata ini berkisah tentang seorang guru yang idealis yang meninggalkan kampung halamannya untuk mengajar di sebuah sekolah di New York City, dimana dia menghadapi masalah dengan murid-muridnya. “Film ini menceritakan tentang classroom management. Film ini saya pakai sebagai tugas analisis waktu mata kuliah classroom management. Mahasiswa bisa dapat gambaran jelas tentang teori-teori yang mereka pelajari,” kata Annya.

Ditanya tentang film favorit, Annya menjawab bahwa ia menggemari film-film Korea. “Film Korea selalu memasukkan unsur-unsur penting. Mereka kuat sekali jaga tradisi. Penghormatan pada orang tua atau yang lebih tua sangat bagus,” jelasnya. Menurutnya, tidak hanya sebagai media pembelajaran bahasa, film juga bisa menjadi media pembentukan karakter. “Jadi saat menonton film Korea, mereka tidak hanya belajar bahasa Inggris melalui subtitlenya, tetapi juga budaya yang bisa membentuk karakter mereka.”