PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Pendidikan Nasional di Mata Dr. Sugeng Susilo Adi, M.Hum

02-May-2018 Pendidikan Inggris Berita, Dosen

PAK SUGENG EDIT 500

“Pendidikan adalah upaya sistemik untuk meningkatkan kecerdasan manusia baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Pedidikan sering kali dipahami sebagai upaya sebuah entitas, bisa pemerintah, swasta, masyarakat, LSM, atau individu dalam mencerdaskan kehidupan manusia agar menjadi manusia yang lebih bermartabat,” kata Dr. Sugeng Susilo Adi, M.Hum, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB). Sebagai sebuah sistem, maka pendidikan selalu terdiri dari masukan, proses, dan luaran. “Masukan bisa berupa siswa, mahasiswa, atau subjek didik lainnya. Proses bisa formal, nonformal, atau informal berupa kegiatan belajar mengajar. Dan luaran bisa berupa hasil belajar yang terukur maupun tak terukur secara statistik,” sambungnya.

Ketika diminta pendapatnya tentang pendidikan di Indonesia, Sugeng menyatakan bahwa pendidikan harus dilihat dari banyak parameter. “Jika pendidikan dipersempit menjadi persekolahan, maka ada beberapa hal yang menjadi keprihatinan saya selama ini,” jelasnya. Pertama, ketimpangan antara sekolah di perkotaan dan di daerah pinggiran dan pedesaan, bahkan di daerah terpencil. Kedua, komersialisasi pendidikan di mana hanya sebagian anggota masyarakat yang mampu mejangkau pendidikan yang berkualitas dengan segala fasilitas dan kurikulumnya. “Namun saya sangat menghargai apa yang dilakukan pemerintah pusat dalam upaya memberikan kesempatan kepada semua warga negara untuk mengakses pendidikan dengan program Kartu Indoneisa Pintar. Ini adalah amanat konstitusi. Saya juga mengapresiasi beberapa pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, dan kota yang memberikan pendidikan gratis kepada warga masyarakatnya” jelas Sugeng yang juga menjabat sebagai Direktur Unit Pengembangan Bahasa UB.

Ditanya mengenai perbedaan sistem pendidikan di dalam dan di luar negeri, Sugeng mengatakan bahwa sistem pendidikan di luar negeri memberikan porsi lebih pada pengembangan pedagogis. “Saya hanya mengamati dari cerita orang tua siswa yang saya temui di sana, dan kunjungan singkat saya ke SD, SMP, dan SMA ketika saya sedang mengikuti program non gelar di Amerika. Perbedaan utamanya adalah kebebaan berekspresi. Murid SD di sana nyaris tanpa PR. Mereka hanya diberi tugas membaca fiksi di akhir pekan, kemudian menceritakan kembali apa yaang mereka baca di hari berikutnya,” ujarnya. Dalam kegiatan bercerita ini siswa akan terbiasa berekspresi dan berpendapat secara independen. Semua pertanyaan hanyalah opinion questions, sehingga siswa sangat terbiasa dengan kegiatan menyampaikan opini secara terbuka. “Contoh lain adalah ketika siswa kita diminta untuk menggambar sawah, yang terjadi adalah rata-rata mereka menggambar yang sama, ada gambar matahari diapit dua gunung, dan ada sawah di bawahnya yang dipisahkan oleh jalan raya. Sementara anak-anak di sana bisa menggambar mall di tengah sawah, dan guru tidak menyalahkan. Semua itu merupakan pengembangan imajinasi mereka,” kata Sugeng.

Pernah mengenyam pendidikan Magister Pendidikan di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan, University of South Australia (UNISA), Sugeng memberikan gambaran tentang perbedaan suasana pendidikan dengan kampus di Indonesia. “OSPEK sudah didesain dengan sangat menarik dan berkaitan langsung dengan kegiatan mahasiswa. Kegiatan OSPEK benar-benar berupa pengenalan kampus dan lingkungannya dalam bentuk pengalaman langsung. Jadi kami para mahasiswa baru diajak langsung untuk ke perpustakaan, mendaftar anggota, ke ruang-ruang kelas, ke klinik, asrama mahasiswa, cafetaria, dan semua fasilitas kampus,” jelasnya. Mereka juga dikenalkan dengan kehidupan luar kampus yang relevan dengan kehidupan sehari-hari seperti bagaimana naik bus, ke rumah sakit, ke pasar, ke kantor imigrasi, ke kantor pajak, ke dokter, ke perpustakaan kota, dan ke tempat-tempat yang bermanfaat bagi kehidupan mahasiswa. Sementara dalam kurikulum, sejak awal semester mahasiswa sudah disiapkan dengan silabus yang sangat rinci dan jelas tentang apa yang harus mereka baca dan tugas-tugas apa yang harus dilakukan dalam satu semester. “Perbedaan fundamentalnya adalah kami sendiri yang bertanggung jawab atas belajar kami, sehingga kami disadarkan sejak awal bahwa tanggung jawab belajar sepenuhnya ada di pundak kami,” jelas Sugeng yang juga pernah menempuh studi magister di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

 PAK SUGENG EDIT 650 02

Terkait Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei, Sugeng memberikan pendapatnya tentang pendidikan nasional setelah lebih 70 tahun Indonesia merdeka. “Jika bandingannya adalah era kolonial, maka saya kira pendidikan kita sudah merdeka. Tetapi di era kolonial tantangan pendidikan jelas sangatlah berbeda dengan zaman now,” ujarnya. Dalam hal kesempatan mendapatkan pendidikan dasar, menurutnya, Indonesia sudah merdeka. Pada masa ini, semua anggota masyarakat sangat mudah untuk mendapatkan kesempatan bersekolah. “Bagi yang kurang mampu, sepengetahuan saya pemerintah telah menyediakan beasiswa yang bermacam-macam, baik di pendidikan dasar, menengah maupun tinggi,” sambungnya.

Tentang pendidikan nasional, Sugeng juga merasa masih ada yang perlu dibenahi. misalnya perlunya penyesuaian dengan konteks sosio-kultural masyarakat yang beragam. “Indonesia adalah masyarakat multikultural, plural, dengan karakter masyarakat yang beragam berdasarkan latar belakang sosialnya. Ada masyarakat nelayan atau masyarakat petani tradional yang anak-anak usia sekolah mereka harus membantu orang tua mereka di musim melaut atau tanam atau panen padi, sehingga pada hari-hari tertentu mereka harus tidak masuk sekolah karena membantu orang tua,” kata Sugeng. Hal ini adalah contoh kasus dimana kalender kurikulum harus menyesuaikan diri dengan latar belakang masyarakat tertentu. “Dengan demikian sistem kurikulum nasional yang seragam haruslah ditinjau ulang. Kedua, pendidikan haruslah diarahkan untuk menciptakan masyarakat pembelajar, bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja,” jelas Sugeng yang pernah menjabat sebagai Kaprodi Pebasis periode 2011-2016.

Sebagai dosen Prodi Pebasis yang mencetak calon-calon guru Bahasa Inggris, Sugeng merasa bahwa sebelum terjun ke dunia pendidikan, mahasiswa, terutama dari Prodi Pebasis, harus meningkatkan kompetensi bahasa Inggris mereka. “Mereka harus mampu mengungkapkan ide-ide kompleks ke dalam Bahasa Inggris akademik yang bisa diterima. Selain itu, mereka harus meningkatkan kompetensi pedagogis mereka dalam merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran. Mereka harus akrab dengan IT karena saat ini metode pembelajaran harus mengikuti perkembangan ITC.” (AG)