PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Kholifatur Rohmah, Juara 3 Speech Competition UNESHCO 2018

01-May-2018 Pendidikan Inggris Berita

OLIF UNY

UNY National English Competition (UNESHCO) adalah lomba Bahasa Inggris berskala nasional yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) SAFEL (Student Activity Forum of Foreign Languages), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kompetisi ini merupakan salah satu agenda untuk memperingati Dies Natalis UNY yang terdiri dari kompetisi speech dan micro-teaching. Acara ini telah diselenggarakan 2 (dua) kali sejak 2016 dan yang ketiga diselenggarakan pada 27-28 April 2018 di UNY. Tahun ini UNESHCO mengusung tema “Speak confidently, be the future leader”. Melalui tema ini, diharapkan para peserta akan berbicara lebih percaya diri yang mana hal ini merupakan salah satu syarat untuk menjadi pemimpin di masa mendatang.

Salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Brawijaya (UB), Kholifatur Rohmah (Pebasis 2016), menjadi pemenang pada lomba tersebut. Olif, begitu ia biasa dipanggil, menjadi juara ketiga untuk kategori speech. “Alhamdulillah, saya mendapatkan juara 3 dari 40 peserta yang berasal dari perguruan tinggi di indonesia” tutur gadis kelahiran Sampang ini. Olif bukan merupakan satu-satunya delegasi dari FIB UB. Amin Said Harahap (2016) dan Ella Distyanita (2016) juga turut tampil pada acara tersebut dan berhasil mencapai babak final.

Olif harus melewati 3 babak sebelum mencapai grand final. Tiga babak awal mengharuskan Olif membuat pidato dalam waktu singkat dengan tema How to enhance cross cultural understanding pada babak pertama, How does the current system of public education stifle innovation? And how can the system be changed to foster creativity pada babak kedua, serta How national exam run in education system of Indonesia pada babak ketiga. “Pada babak terakhir, saya diminta membuat pidato dengan tema If you were the authority of the provincial government of Jakarta, what will you do to overcome the problem?” lanjut Olif. Dalam melalui babak demi babak, Olif banyak kendala yang dihadapi Olif. Rasa percaya diri menurun melihat peserta yang tampil luar biasa merupakan salah satunya. Selain itu, minimnya waktu persiapan juga membuat Olif harus bekerja ekstra keras. “Membuat ide atau outline hanya dalam waktu 30 menit dengan tema impromptu merupakan tantangan terberat,” katanya.

Karena kompetisi ini merupakan kompetisi pidato ketiga yang telah diikutinya, Olif tidak begitu grogi saat tampil. “Saya tidak begitu nervous disaat tampil, hanya rasa minder saja melihat peserta lain. Jadi saya mencoba disaat masuk 8 besar untuk tetap fokus mengangkat setiap tema dengan tepat dan mengingat kembali latihan yang saya lakukan di English Club AEELS, sampai pada akhirnya saya masuk 3 besar,” ujar Olif.  Tetapi, ada penyesalan yang dirasakan Olif. “Di saat juri terakhir memberikan pertanyaan, saya melakukan slip tongue dengan berkata ‘apa ya’ dan itu yang membuat saya merasa menyesal, but I learned a lot form that event,” katanya.

Terakhir, Olif menyarankan para mahasiswa untuk menambah pengalaman dengan mengikuti kompetisi. “Jangan pernah merasa takut untuk mengikuti kompetisi karena takut gagal, Cobalah karena menang kalah hanyalah bonus yang kalian dapatkan untuk usaha yang tak ternilai.”