PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Gerakan 2000/hari yang Penuh Arti bagi Vion, Rizky, Alvi, dan Lidia

02-Jun-2018 Pendidikan Inggris Berita

vion.rizky.alvi.lia 01

Beramal tidak hanya berawal dari keinginan dari hati tetapi juga dari keadaan sekitar yang mengetuk dan menyentuh hati. Berawal dari melihat keadaan di sekitar alun-alun kota Malang dimana banyak tukang becak yang sudah tua dan tidur di becak saat malam hari, seorang remaja tergerak untuk beramal. “Awalnya saya merasa tidak enak saja. Sudah malam sekali, dan bahkan mereka ada yang tidur di becak,” tutur Raviona Annida, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2016. Bersama dua orang rekannya, Alvi Lailatil (2016) dan Rizky Pratama (2016), Vion, begitu ia biasa disapa, membulatkan tekad untuk memberikan donasi kepada yang membutuhkan. “Selanjutnya ada beberapa teman yang mau ikut, ada yang hanya bulan itu saja, atau benar benar ikut setiap bulannya. Karena ini juga sukarela dan bukan sebuah komunitas, kami juga tidak mentarget atau membatasi peserta,” jelas mahasiswi yang berasal dari Palangkaraya ini. Pada dua bulan terakhir, jumlah anggota tetap mereka bertambah satu, yaitu Lia Lidiana (2016).

Kegiatan mereka kemudian dimulai dengan pengumpulan dana. “Awalnya kami berpikir uang yang kami pakai hanya digunakan untuk begitu-begitu saja dan boros, dan akhirnya kita sadar bahwa masih banyak orang yang membutuhkannya. Mereka susah makan bahkan minum pun jarang,” ujar Alvi. Kemudian mereka membuat kesepakatan untuk mengumpulkan uang sejumlah dua ribu rupiah per hari. “Kami berpikir dengan uang saku kami yang Alhamdulillah lebih kami menyisihkan 2000 per harinya sehingga sebulan ada 60.000 per anak. Lumayan jika dibelikan nasi bungkus dan air untuk mereka yang membutuhkan sekalian membersihkan hati untuk berbuat baik,” ujar Alvi. Singkatnya, niat mereka adalah memberi dan membahagiakan. “Karena kami tau rasanya diberi dan dibahagiakan,” sambung Vion.

Mereka kemudian memulai gerakan tersebut di alun-alun kota Malang. Mereka membagikan makanan pada tukang becak, petugas pembersih sampah, dan gelandangan yang tidur di depan toko-toko. “Awalnya kita lebih ke jalanan seperti relawan parkir, pengemis, pedagang yang kurang laku dan relawan penyeberangan jalan. Namun bulan lalu kami juga ke panti asuhan untuk sharing bersama mereka,” ujar Alvi. Pada April 2018 mereka memutuskan untuk mencoba berbagi pada sebuah panti asuhan. Walaupun sangat menikmatinya, mereka mengaku kewalahan dan kurang efektif. “Karena mungkin kami nya yang belum pernah mengadakan acara seperti itu, jadi memang agak memberatkan dan terlalu lama karena harus tertata,” jelas Vion. Selain itu, anak-anak penghuni panti kebanyakan masih anak-anak, dan juga waktu pelaksanaan yang dibatasi membuat mereka berpikir lagi untuk mengadakan acara di panti asuhan. “Dengan keterbatasan yang kami miliki tidak cukup untuk membantu sebuah panti. Jadi kalau dijalanan kami bisa sesuaikan dengan kemampuan kami,” sambung Alvi yang berasal dari Trenggalek.

Walaupun terbilang kecil, kegiatan mereka ini membuat mereka bahagia. “Senang sekali. Dengan menyisihkan sedikit uang jajan, dan bisa memberikan makan kepada yang membutuhkan, karena sebagai anak kost saya tau rasanya kelaparan,” ujar Vion.

Kegiatan yang mereka lakukan bukan tanpa kendala. Salah satunya adalah masalah transportasi, karena tidak semua dari mereka memiliki kendaraan. “Kadang ada yang memberi uang saja, jadi kami yang memesan dan membagikan. Yang membagikan melihat situasi, bisa atau tidaknya kami semua, ada tebengan atau tidaknya juga,” jelas Vion.

vion.rizky.alvi.lia 02

Di bulan Ramadhan tahun ini, mereka kembali mengadakan kegiatan berbagi dan dilakukan pada saat sahur. Sebelumnya mereka ingin menjadikan alun-alun kota Malang sebagai lokasi karena tempat tersebut merupakan langkah awal kegiatan donasi ini. “Karena ramadhan banyak sekali yang membagikan di alun alun, jadi kami menuju di sekitaran Suhat (Soekarno-Hatta),” terang Vion.

Baik Vion maupun Alvi sangat bersyukur banyak yang mendukung kegiatan ini selain mereka berempat. Ada beberapa teman mereka yang membantu walaupun tidak rutin setiap kegiatan. “Kami berempat adalah kelompok tetap insya Allah. Tapi kami tidak menutup bantuan dari manapun dan dalam bentuk apapun besar kecilnya jumlah kami terima. Jika mau bergabung juga kami menerima,” ujar Alvi. Senada dengan Alvi, Vion menambahkan, “Kami terbuka untuk bantuan dari manapun, atau ada yang mau bergabung. Siapa tau beberapa masalah kami terpecahkan, seperti transportasi.”

Kedepannya, Vion berharap semakin banyak yang ikut serta, semakin banyak yang membantu, juga semakin banyak yang terbantu. Alvi juga menyampaikan hal senada. “Semoga kegiatan ini bisa istiqomah terus sampai lulus atau bahkan setelah lulus dan bisa menginspirasi orang-orang untuk memiliki rasa syukur yang lebih terutama untuk diri saya sendiri dan teman-teman bahwa apa yang kita punya belum tentu dipunyai orang lain,” ujar Alvi. (AG)