PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Mario Supandhi Memenangkan Medali Emas di International Research Innovation, Invention, & Solution Exposition (IRIISE) 2018

18-Aug-2018 Pendidikan Inggris Berita

Mario 01 edit

Bertempat di Universiti Malaya, Malaysia, salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) memperoleh medali emas dalam International Research Innovation, Invention, & Solution Exposition (IRIISE) 2018 yang berlangsung pada 14 – 16 Agustus 2018. Moh Mario Alvin Supandhi (Pebasis 2017) mewakili UB bersama rekan-rekan satu timnya dari Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Kedokteran (FK), dan Fakultas Peternakan (FAPET).

“Latar belakang saya mengikuti kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan produk baru berbasis teknologi yang telah team saya dari UB buat. Saya bertugas menjadi presenter untuk menjelaskan terkait produk yang telah dibuat oleh team dari Universita Brawijaya,” jelas Mario. Produk yang dimaksud adalah SENSOR yang merupakan kependekan dari Smart Energy from Milk Sortation. “SENSOR adalah alat pengubah susu sortasi atau susu tidak memenuhi standart pabrik yang diubah menjadi energi listrik yang dikembangkan dengan teknologi IoT serta aplikasi berbasis android,” ujar Mario.

Ide pembuatan SENSOR berawal dari minimnya ketersediaan tenaga listrik di Indonesia khususnya di Desa Bandialit, Jember, Jawa Timur, sementara daerah ini merupakan memiliki susu sortasi yang melimpah. Berdasarkan riset yang pernah dilakukan sebelumnya, Mario dan rekan-rekannya memiliki gagasan untuk mengembangkan susu sortasi menjadi energi listrik. “Untuk ini, kami hanya mencari informasi tidak sampai meneliti,” jelas mahasiswa asal Malang ini. Dalam mengikuti kegiatan ini, Mario menemui beberapa kendala. “Banyak sekali istilah-istilah sains yang sulit dipahami,” ujarnya.

 Mario 04 edit

Kedepannya, Mario memiliki banyak harapan terhadap produk yang telah ia dan rekan-rekannya presentasikan. “Jikalau dikasih investasi lebih dari kampus maka kami akan membuat produk realnya karena yang kita buat saat kompetisi hanyalah prototipenya saja. Dan jikalau diberi kesempatan untuk mengikuti kompetisi internasional lagi insya Allah siap bertanding lagi,” ujarnya. (AG)