PS Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Alvi Lailatil Qodriatus Sholihah: Menulis Cerita Anak-Anak Itu Menantang

25-Aug-2018 Pendidikan Inggris Berita

 Alvi 02 edit1

Menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi beberapa orang. Dengan menulis segala bentuk perasaan bisa dicurahkan, selain juga menulis merupakan media untuk memberikan contoh yang baik kepada pembacanya. Alvi Lailatil Qodriatus Sholihah, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Pebasis) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2016, adalah salah satu yang menekuni dunia menulis. “Bagi saya, menulis itu sudah seperti hobi. Jadi sejenis kebiasaan,” katanya. Pada tahun 2014, Alvi sudah menerbitkan sebuah novel remaja berjudul Because I’m not Pretty. Penerbitan ini merupakan salah satu bentuk hadiah karena Alvi memenangkan lomba menulis. “Ceritanya dilirik penerbit karena Alhamdulillah saya kemarin mendapatkan voucher menerbitkan buku novel, jadi saya coba saja. Ternyata responnya baik. Tetapi karena kontrak hanya setahun, buku itu sudah tidak diproduksi lagi,” jelasnya.

Alvi juga tertarik untuk menulis cerita anak-anak. Ia sedang membuat satu seri cerita Annisa the Series. Cerita pertama yang sudah diterbitkan berjudul Lupa Baca Basmallah. “Saya bekerja sama dengan penerbit dimana saya mengirimkan naskah dan harus revisi berulang kali sampai akhirnya bisa terbit Maret akhir dengan bantuan ilustrator dari penerbitnya,” jelasnya. Kini Alvi sedang mempersiapkan cerita berikutnya dari Annisa the Series. Untuk seri ini, Alvi memang menggunakannya sebagai edukasi pengajaran Islam untuk anak melalui cerita.

Menulis cerita anak belum lama ditekuni Alvi. “Tepatnya semester 3 lalu saya mulai belajar menulis cerita untuk anak-anak,” jelasnya. Ada banyak hal yang membuat Alvi tertarik menulis cerita anak. “Imajinasi yang luar biasa yang ada dalam setiap cerita anak yang saya baca serta moral value yang sangat bagus dan harus tepat sasarannya dan mudah dipahami untuk anak2 itu adalah tantangan tersendiri buat saya, beda saat membuat cerita untuk remaja tanpa memikirkan kalimat-kalimatnya asalkan alur bagus pasti mereka akan tahu pesan didalamnya,” katanya. Karena sasarannya anak-anak, pemilihan kata-kata dan edukasi yang ada dalam cerita menjadi perhatian khusus. “Jadi bukan hanya cerita biasa tapi cerita yang mendidik,” sambung salah satu Perempuan Inspiratif MFM 2018 ini.

Mungkin memilih cerita anak hal yang membosankan bagi beberapa orang, tapi karena sejak kecil Alvi menyukai dongeng, ia selalu berharap bisa membuat dongeng atau cerita anak sendiri. “Saya ingin cerita-cerita anak nantinya bisa membuat mereka termotivasi untuk terus belajar dan maju,” jelasnya. Menurut Alvi, banyak cerita anak yang tidak ada isinya, bahkan pernah ditemukan cerita anak yang berbau dewasa dan tidak cocok untuk usia anak. “Buku-buku yang tidak mendidik seperti ini seharusnya jangan diberikan kepada anak. Biarkan mereka membaca buku-buku sesuai usianya. Mungkin memang bagi orang dewasa cerita anak membosankan, tapi bagi saya cerita anak itu adalah tantangan tersendiri,” lanjut mahasiswi asal Trenggalek ini.

Alvi 01 edit

Menanggapi tentang minat baca, menurut Alvi, remaja sekarang masih memiliki minat baca walaupun kurang tinggi. “Mereka sering online dan membuka situs-situs tertentu dan membacanya. Cuma bacaannya saja yang tidak berkualitas seperti gosip dan berita-berita ujaran kebencian. Tapi masih banyak juga yang suka membaca hal-hal positif seperti mencari buku-buku pdf untuk dipelajari,” katanya. Lain halnya dengan anak-anak, menurutnya, mereka lebih menyukai sesuatu yang bisa diliat langsung. “Kalau minat baca mungkin bisa dibilang kurang, karena zaman modern banyak video dongeng yang lebih menarik. Tapi banyak juga anak-anak yang lebih suka baca dongeng bergambar daripada menonton video,” sambungnya.

Sebagai mahasiswa prodi pendidikan, Alvi, yang juga terpilih sebagai Mawapres 2018 UB, merasa dongeng bisa digunakan sebagai media pembelajaran, terutama pembelajaran bahasa. “Karena dongeng itu sendiri mempunyai sisi pendekatan yang diam-diam langsung pada tujuannya. Semisal anak belajar bahasa asing dengan media dongeng anak-anak akan langsung kepo interest dengan dongeng itu dan mencari tau makna yang ada pada bahasa yang asing itu. Ini akan menambah banyak kosakata baru bagi mereka,” ujarnya. (AG)