PS Pendidikan Bahasa Jepang

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya
Ditulis pada 27 September 2017 , oleh Pendidikan Jepang , pada kategori Berita

Pada tanggal 7 September 2016, akhirnya saya menginjakkan kaki di Jepang untuk pertama kalinya. Sebagai salah satu peserta program beasiswa Monbukagakusho dari Indonesia yang diberi kesempatan untuk ryuugaku selama kurang lebih satu tahun di Jepang, saya benar-benar senang karena saya akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya belajar di negeri sakura yang merupakan mimpi saya sejak SMA terlebih lagi di universitas yang saya kagumi yaitu, Keio University. Pada awalnya saya merasa kesulitan karena saya harus mengurus segala sesuatunya sendirian dengan berbekal petunjuk yang diberikan semasa orientasi mahasiswa di kampus, tapi dari situlah saya jadi paham apa saja yang harus dilakukan ketika kita akan memulai kehidupan sebagai mahasiswa asing di Jepang.
Pada bulan November, kampus saya mengadakan festival tahunan (大学祭) yang berlangsung selama tiga hari. Di sana saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat apa saja yang ditampilkan dari tiap-tiap klub yang ada di Keio University Mita Campus. Di antara circle yang ada, saya menyempatkan diri menonton penampilan anggota Rakugo Kenkyuukai, Shuwa-bu, dan Sadou-bu. Di sana saya juga bertemu dengan teman baru dari Jepang yang pernah mengikuti program ryuugaku ke Indonesia selama satu tahun di Jakarta.
Selain mata kuliah bahasa Jepang, saya mengikuti sebuah mata kuliah berbahasa Inggris seputar kebudayaan makanan di Jepang (日本食文化). Di sana saya belajar banyak hal seputar sejarah tentang makanan pokok masyarakat Jepang, pengaruh negara asing dalam budaya makan di Jepang, dan perkembangannya hingga saat ini. Saya dan teman-teman yang mengikuti mata kuliah ini juga diberi kesempatan untuk melakukan kengaku atau field trip ke perpustakaan milik Ajinomoto (味の素食の文化ライブラリー) yang berada di Takanawa, Minato-ku, Tokyo.
Di akhir semester pertama, tepatnya ketika fuyu yasumi, saya menyempatkan diri untuk pergi rekreasi dengan tujuan yang cukup jauh yaitu Hokkaido. Alasan saya memilih Hokkaido sebagai tempat tujuan rekreasi saya adalah karena di Tokyo, saya hanya melihat salju sekali saja pada bulan November yang lalu. Saya berangkat menuju Hokkaido dengan naik shinkansen dan saya menginap di daerah Asahikawa. Musim dingin di Hokkaido benar-benar dingin, terlebih lagi saya menginap di daerah Asahikawa yang terletak di sebelah utara Sapporo. Suhu paling dingin yang pernah saya rasakan adalah -17℃. Saya memanfaatkan kesempatan saya di Hokkaido untuk mencoba winter sport yang populer di Jepang yaitu ski dan ice skating. Selain winter sport, pada bulan Februari awal terdapat festival salju terbesar di dunia yang disebut Sapporo Snow Festival (札幌雪祭り) yang diselenggarakan di Sapporo dari tanggal 6-12 Februari 2017. Walaupun hanya sempat mengunjungi Sapporo Snow Festival selama satu hari, saya tidak merasa sedih karena pada awal bulan Februari, hampir seluruh penjuru Hokkaido mengadakan festival bertema salju termasuk di daerah Asahikawa dan Otaru yang sempat saya kunjungi.
Selama ryuugaku, banyak hal yang membuat saya merasa bahagia mendapat kesempatan ryuugaku di Jepang. Tidak hanya teknologi yang canggih dan alat transportasi yang serba praktis, namun kebiasaan dan kebudayaan yang benar-benar berbeda dengan Indonesia, menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk bertahan hidup di negeri sakura. Tidak hanya itu, pada beberapa kesempatan, saya juga bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat tinggi terhadap budaya di Indonesia termasuk salah satu sensei saya yang berkata ingin sekali ryuugaku di Indonesia untuk belajar tentang budaya Indonesia khususnya gamelan. Selain itu, saya juga bertemu dengan orang-orang yang dengan semangat mempelajari bahasa Indonesia. Hal itu membuat saya bangga sebagai warga negara Indonesia dan saya berharap semakin banyak mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang bisa pergi ryuugaku ke Jepang.

diella1

J

J