Ditulis pada 4 December 2018 , oleh Seni Rupa , pada kategori Berita, kegiatan

Selasa, 4 Desember 2018 Prodi Seni Rupa Murni mengadakan WORKSHOP  penulisan kuratorial seni, Manajemen seni dan Enterprenuer Seni  bertempat di Aula Gedung B Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Sebagai bagian dari program kerja Prodi workshop dan seminar akan berlangsung hingga esok tanggal pada 5 Desember 2018.  Workshop hari ini dengan tajuk  Framework Kuratorial dalam Manajemen Seni,  menghadirkan I Gede Arya Sucitra, S.Sn, MA selaku pembicara. Arya Sucitra dikenal juga sebagai pelukis , Dosen, Kurator, penulis  sekaligus merangkap sebagai Kepala galeri R.J Katamsi ISI Yogyakarta.

Workshop dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga usai pada pukul 12.00 WIB. Pada kesempatan tersebut Arya menyampaikan bagaimana kerangka kerja ideal dari sebuah kerja kuratorial. Menurutnya tidak semua kurator profesional memiliki metode atau cara kerja yang sama, namun mereka memiliki dasar atau landasan kerja  yang wajib dimiliki oleh kurator. Arya memaparkan bahwa kerja seorang kurator lebih dari sekedar menulis pengantar pameran yang mampu menjembatani pemikiran seniman, bahkan seorang kurator dituntut untuk menguasai berbagai keterampilan dan berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti sejarah seni, antropologi, managemen, sosiologi, ekonomi, politik, gender dan lain sebagainya.  Semua Kuratorial knowledge itu akan membantu seorang Kurator untuk menjadi produser, planer, organizer, komisioner, educator dan manajer dari suatu pameran. Disamping itu Arya juga menekankan bagaimana posisi Kurator sangat penting dalam suatu pameran, sebab pertanggung jawaban terhadap segala aspek terkait pameran ditujukan pada Kurator. Pada kesempatan tersebut Arya juga menegaskan bahwa Kurator harus memiliki strategi dalam mengkonsep suatu tulisan dan pameran, diantara strategi tersebut adalah berani menghadirkan kontradiksi, keingintahuan , kolaborasi dan menghadirkan tantangan.

suasana Workshop framework kuratorial Seni

Diakhir sajian materinya Arya menyampaikan saran terkait penulisan seni dari mahasiswa seni rupa Brawijaya. Menurutnya sajian tulisan kuratorial perlu menyertakan teori atau referensi literatur. Selain itu dia juga menyarankan untuk menghindari istilah atau judul yang terlampau berat supaya orang awam dapat memahami maksud tulisan tersebut. Menutup paparan materinya Arya mengajak para mahasiswa seni rupa murni untuk berusaha menampilkan proposal kegiatan pameran semaksimal mungkin. Iqbal Misbahudin, salah seorang peserta  workshop  menuturkan “ Sangat menarik sekali, materinya sangat bermanfaat untuk kita sebagai mahasiswa agar memiliki pandangan luas tentang curator, dan kurasi yang baik itu bagaimana. Selain itu kita juga diberitahu tentang secuil medan seni itu seperti apa” pungkasnya. (Balqis)