Ditulis pada 7 December 2018 , oleh Seni Rupa , pada kategori Berita

Malang, FIB UB  gedung B, Usai workshop  Majanemen Kuratorial yang diisi oleh I Gade Arya Sucitra pada tanggal 4 Desember 2018, Prodi Seni Rupa melanjutkan rangkaian workshop dan seminar pada Rabu, 5 Desember 2018. Pada kesempatan tersebut seminar disampaikan  oleh dua orang  pemateri  asal yogyakarta yakni Timbul Raharjo yang popular dikenal sebagai pengusaha dan seniman keramik, Sementara  pembicara yang lain adalah Arsita Pinandita, sosok dibalik suksesnya gelaran event-event kesenian di Yogyakarta. Timbul aka Heru merupakan Dosen Seni Kriya ISI Yogyakarta, selain Dosen Ia juga aktif dalam organisatoris, Kurator, Seniman dan Wira usaha. Sedangkan Arsita merupakan kurator sekaligus organisator dibalik beberapa event-event pameran prestisius di Yogyakarta.

Berbicara tentang Entrepreneur, Timbul menyampaikan  bahwa  modal utama yang dibutuhkan dalam berwira usaha adalah kreativitas, dan itu diperlukan dalam segala aspek.   Timbul juga berbagi tips dalam penguasaan kreativitas.  Yang pertama penguasaan dalam ilmu pengetahua, baik yang biasa dimata masyarakat sampai yang berkelas dimata manusia. Yang kedua  modal sosial, interaksi antar lingkungan sangat amat berpengaruh pada diri seseorang untuk menjalin keakrapan dalam inovasi kreativ. Yang ketiga  modal ekonomi, memanfaatkan dana yang ada pada saat itu, jika dana tersebut minim ambilah sesuatu yang tidak ternialai menjadi  sesuatu yang berkelas dan mahal harganya.  Disamping tips di atas menurut Timbul Motivaror sangat diperlukan untuk pelaku wirausaha, “Tanpa adanya motivator  pelaku bagaikan stategi tokek (ragu dalam mengambil keputusan), jika strategi tokek yang sering digunakan ya kapan mau maju?. Tiru saja Syahrini  yang selalu maju mundur, walaupun maju mundur lama-lama juga sampai ketujuan, soale majune Syahrini rong lahkah dan mundure cuma selangkah . Kelakar Timbul dalam perumpamaan. “Entrepreneur ini digambarkan  seperti rangkaian telur, cangkang telur digambarkan sebagai Entrepreneurnya, putih telur sebagai pelindungnya dan kunging telur sebagai proses kreatif dalam produksi dan kontribusi” pungkasnya.

Arsita ketika menyampaiakn materi dalam seminar seni dan siasat publik

Di sesi yang kedua Arsita Pinandita menyampaikan materi “Pameran dan Siasat Publik”.  Dosen dan Kurator yang akrab dipanggil Dito ini menyampaikan bahwa dalam wacana kontemporer pameran telah menjadi sebuah struktur tata bahasa dan cara teratur dalam penyampaian kritikan, tidak hanya sekedar berkarya. Perencanaan dalam suatu pameran harus terstuktur dalam konsepnya sehingga menghasilkan karakter atau jenis pameran yang dapat dipraktekkan dalam teknis pameran dan siasat atas pubik saat pameran berlangsung. Konsep dapat dikulturasikan sehingga dapat menunjukkan  konten  yang hasilnya tepat kesasaran target Audience dan Market. Selain itu konsep dengan karya seni  harus menunjukkan konteks sebagai kritik dan wacana publik. “Bahkan ruang pameran  dan karya seni dapat  menunjukkan eksplorasi pada pubik, karna ciri khas media baru saat ini adalah dialog atau interaksi” tambah Dito diakhir materi. (hida)