Cintya Dara Sakina

 

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) kembali menorehkan prestasinya. Cintya Dara Sakina merupakah salah satu mahasiswa Program Studi Sastra Jepang angkatan 2019 FIB UB. Cintya berhasil meraih Best Presenter 1 dan 12 Best Papers di perlombaan esai Brawijaya Undergraduate Students Conference (BRAUSC) 2022 pada 20 Desember 2021 – 16 Februari 2022 yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting.

BRAUSC merupakan acara perlombaan esai dan konferensi untuk seluruh mahasiswa di Indonesia. BRAUSC diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UB yang didukung oleh Japan Foundation.

Tema utama lomba esai BRAUSC 2022 adalah ‘Japan Today: Out of Sight, Out of Mind’, Exploring Current Issues of Japan in the 21 Century yaitu menjelajahi isu-isu terkini Jepang di abad ke-21. Tema ini meliputi empat topik yaitu Environment and Sustainability, Human Rights, Culture and Society, dan Global and Regional Cooperation.

Langkah pertama dalam BRAUSC yang harus diikuti adalah membuat esai. Peserta diminta untuk membuat esai yang diseleksi menjadi 12 esai terbaik. Dari 12 esai tersebut, diseleksi untuk maju ke tahapan selanjutnya, yaitu diskusi panel. Jangka waktu yang diberikan dari pengumuman 12 esai terpilih menuju diskusi panel hanya empat hari. Diskusi panel terbagi ke dalam kategori-kategori dari empat tema tersebut, kemudian para peserta memasuki breakout room sesuai tema untuk presentasi setiap esai yang dibuatnya. Dalam sesi presentasi terdapat sesi tanya jawab oleh peserta dan juri.

“Awalnya saya tidak bermaksud untuk mengikuti lomba BRAUSC, karena masih ada kegiatan lain yang lebih diprioritaskan. Akan tetapi, ternyata terdapat perpanjangan waktu satu minggu dari akhir batas penutupan yang semulanya sudah ditentukan. Adanya perpanjangan waktu itu membuat saya berubah pikiran yang akhirnya berniat untuk mengikutinya,” ungkap Cintya.

“Dalam lomba ini, saya memilih tema Culture and Society, dengan judul esai ‘Pengaruh Peran Gender terhadap Fenomena Shoufika di Jepang’. Saya membutuhkan waktu dua hari untuk mengerjakan, atau H-2 dari jadwal penutupan,” sambungnya.

“Pada waktu itu saya merasa gugup, karena secara mendadak pihak panitia memberi pengumuman bahwa waktu presentasi esai dikurangi selama lima menit. Saya juga terkendala kamera yang sempat tidak bisa menyala, yang membuat saya kurang yakin. Akan tetapi, saya berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menampilkan yang terbaik,” ujar Cintya.

Kendala yang dialami Cintya tidak menjadikannya patah semangat dalam menampilkan presentasi esai tersebut. Cintya dapat mempertahankan artikulasi dan intonasi secara tegas pada saat presentasi untuk mengekspresikan kritik terhadap wacana tentang peran gender di Jepang. Dengan rasa optimisme yang Cintya miliki, Cintya akhirnya terpilih menjadi Best Presenter 1 BRAUSC. [nw/dts/msh/humas FIB]