Menilik Potensi Grafis dalam Mini Residensi Oil Pastel on Silk Screen 

Program Studi (Prodi) Seni Rupa Murni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) bekerjasama dengan Tyaga Art Management menyelenggarakan Mini Residensi pada (1—7/9/2019).  Acara yang dihelat selama 7 hari tersebut diikuti peserta umum dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Nur Iksan dan Mayang Anggrian merupakan dosen Prodi Seni Rupa Murni FIB UB yang terlibat sebagai pemateri dalam kegiatan ini.

Dalam kesempatan ini, Mayang menyampaikan Sejarah dan Perkembangan Seni Grafis Indonesia. Sementara Nur Iksan memberikan Pelatihan Grafis Oil Pastel on Silk Screen selama tujuh hari berturut-turut.

Saat pembukaan acara, Mayang menyampaikan, “Sejatinya Mini Residensi ini merupakan salah satu upaya kami untuk mewacanakan seni grafis beserta praktiknya  ke tengah-tengah masyarakat khususnya Malang raya. Kebetulan maksud tersebut gayung bersambut dengan misi Tyaga Art Management dalam membangun SDM seni, maka terselenggaralah kegiatan ini“.

Berlangsung di Omah Budaya Slamet Bumiaji, Kota Batu, kegiatan Mini Residensi ini tidak hanya mengantar  peserta untuk memahami bagaimana sejarah dan praktik seni grafis (oil pastel) saja, namun juga membantu peserta mendapatkan wacana tentang manajemen personal sebagai seniman.

Selama Mini Residensi berlangsung, Nur Iksan mengenalkan, memberi tutorial dan mendampingi peserta dalam membuat grafis oil pastel di silk screen. Oil pastel digunakan sebagai pengganti afdruk atau emulsion, untuk menutup screen. Cara, alat dan bahan hampir sama dengan yang digunakan untuk silk screen yang menggunakan emulsion, hanya saja membutuhkan alat pemanas untuk melelehkan oil pastel ke screen.

Jenis print making ini diworkshopkan sebab belum banyak masyarakat yang memahami seni grafis dengan teknik tersebut.  Sementara pada salah satu sesi, Mayang menyampaikan bagaimana perkembangan seni grafis di Indonesia, serta memaparkan bagaimana perjalan grafis yang dimulai dari kepentingan non-seni, propaganda, hingga pada praktik di wilayah seni rupa murni. Dalam kesempatan itu pula, disampaikan bagaimana peluang seni grafis di Indonesia bagi emerging artist, hingga sampailah di satu simpulan bahwa peluang bagi seniman grafis muda sangat memungkinkan untuk dijajaki.

Mini Residensi ini juga menghadirkan pembicara lain, diantaranya Slamet Henkus, seniman asal kota Batu yang membantu peserta dalam menggali ide pengkaryaan; kemudian Kubu Sarawan, seniman asal kota Batu yang memberikan kiat-kiat pada peserta untuk memotivasi diri sebagai seniman; Mike Susanto, akademisi, penulis, dan kurator Seni  yang memaparkan tentang bagaimana metode pricing dalam sebuah karya. Berlangsung komunal dan cair di hari terakhir, Mini Residensi ditutup oleh Bambang AW, seniman berjiwa entrepreneur yang menyampaikan tentang bagaimana kiat-kiat self-branding sebagai seniman di tengah-tengah medan sosial seni. (PS.Seni/DT/MSH/PSIK FIB)