Pentingnya Rawat Kebinekaan dengan Komunikasi, Rekonsiliasi, dan Sinergi

 Masih dalam rangkaian Dies Natalis ke-10 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Diskusi Budaya hari ketiga, Rabu (30/10/2019) bertemakan “Identitas Multikultural dalam Dinamika Berbangsa”. Materi tersebut dibawakan oleh Yusri Fajar, M.A., dosen Program Studi (Prodi) Sastra Inggris FIB UB. Bertempatkan di teras gedung B FIB, dialog diikuti mayoritas oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Lewat diskusi tersebut, Yusri mengajak mahasiswa yang hadir untuk merawat kebinekaan dengan tiga cara yaitu komunikasi, rekonsiliasi, dan bersinergi.

Diskusi dibawakan secara santai namun bermakna. Mengingat banyaknya konflik yang pernah ada di Indonesia, misalnya di Kalimatan dan Papua yang melibatkan dua suku yang berbeda, Dia menginisiasi pentingnya menjaga persatuan.

“Penting bagi kita membangun satu kesadaran bahwa kita ini hidup di satu bangsa yang tidak seragam, tidak sama antar satu sama lainnya. Sehingga dengan keberagaman suku bangsa yang seperti ini, kalau kita tidak pandai-pandai mengendalikan emosi, merawat persaudaraan, melestarikan toleransi, maka dapat terjadi konflik,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yusri menyampaikan pesan supaya perbedaan-perbedaan yang ada justru bisa membuat manusia saling mengasihi dan saling menganggap sebagai saudara. Sehingga tidak ada tindakan saling membenci, menyerang, dan mendiskriminasi terhadap orang yang berbeda keyakinan.

Menurutnya bentuk diskriminasi sangat beragam, bisa mencela, mencemooh, termasuk juga fenomena yang sering dilihat sehari-hari yaitu bullying. Sehingga, hal tersebut perlu dihindari. Baginya yang terpenting adalah menerima perbedaan. Sebab dengan demikian, kebinekaan akan terus terawat. (Tika CU/DT/MSH/Humas FIB)